Selasa 16 Juni 2020 lalu sebuah film biografi berjudul Istirahatlah Kata - kata tayang di TVRI. Bagi yg asing dengar judul itu sama saya juga. Film tersebut ternyata telah dirilis tahun 2017 di bioskop Indonesia namun telah malang melintang pada tahun 2016 di layar kaca Internasional dan banyak mendapatkan penghargaan. Menceritakan sepenggal kisah Wiji Thukul (diperankan Gunawan Maryanto) dalam pelariannya sebagai burunon negara atas aksinya yg menentang rezim Orde baru. Wiji Thukul merupakan seorang sastrawan dan juga aktivis yang tergerak menyuarakan secara keras masalah yg terjadi pada rezim anti kebebasan berpendapat itu; Sebuah Rezim yang takut dengan kata-kata.
Berlatar pada tahun 1996 Wiji Thukul terpaksa lari ke pulau Kalimantan Barat untuk meredupkan namanya sejenak, pasalnya Thukul sedang dicari-cari pihak kepolisian agar ditangkap mengenai aksinya dengan Partai Rakyat Demokrasi (PRD). Pontianak adalah kota Thukul menyamar dalam keramaian dengan menggunakan identitas Wanto terlebih dahulu. Hidup Wanto di Pontianak harus ekstra siap untuk berlari kapanpun dan dimanapun supaya polisi tidak menangkapnya, maka itu berpindah - pindah rumah kerabatnya adalah jawaban tepat.
Pelarian tersebut berpengaruh pada fisik dan batin Wiji Thukul, fisiknya yg takut hingga tak bisa tidur dengan tenang tertambah pula beban batinnya yg merindu keluarga. Di lain daerah, Solo tempatnya, Sipon (diperankan Marissa Anita) sabar menunggu kabar dan tetap menjaga martabat sang suami walaupun martabatnya sendiri terusik oleh warga. Dimulai dari aksi penyitaan buku-buku oleh polisi sampai aksi mulut bungkamnya memberi informasi ke polisi dan masyarakat.
Sekian lama di Pontianak Wanto masih tidak memilki identitas untuk menyembunyikan nama aslinya. Kerabatnya berupaya untuk membuat KTP baru bagi Wanto; dan nama Paul si penjual bakso adalah identitas baru Wiji Thukul. Tak ayal kerabatnya suka bergurau pakai nama barunya. Klimaks pergantian nama, tidak serta merta mengamankan dia, Paul tetap bekerja mencari nafkah, mengirim kabar dan memberi hadiah untuk Sipon. Tahun berganti tetapi peristiwa masih sama dengan dulu. Masih tersematnya gelar buronan pada Thukul selain itu kepuasan batinnya bisa terwujud juga saat bertemu kembali dengan Sipon (ada momen spesial) dan anak-anaknya. Akhir bahagia bukan?... Silahkan tonton untuk cari tahu jawaban akhirannya.
Bagi saya ada beberapa momen dalam dan luar film yang disukai. Momen pertama ini sangat menarik karena sekalipun keadaan kritis (pelariannya ke Pontianak) pun Wiji tetap bertekad untuk menggulingkan Soeharto dengan kata- kata berani bernuansa puitis dan bisa menghasilkan karya sastra. Dalam film ditampilkan narasi monolog sebuah puisi karya Wiji sama seperti menonton teater namun tersaji di format film.
Momen kedua ini sangat juga penting pesannya bagi kaum mahasiswa/ pemuda hari ini. Sebuah scene menampilkan kenalan kerabat Wiji yang membawakan makanan untuknya kemudian berbincang sebentar. kerabatnya ini menyukai karya Wiji, dia menyukai salah satu bait puisi "Apa guna baca banyak buku kalau mulut kau bungkam melulu" dia merasa terenyuh atas bait tersebut dan membuatnya bimbang untuk baca banyak buku namun tidak tergerak membantu melawan penindasan, ketidakadilan, dan kesejahteraan, jadi dia memilih untuk tidak membaca buku sama sekali berdalih agar tidak merasa bersalah terhadap hal-hal itu namun reaksi Wiji Thukul mendengar; melihat itu sangatlah seram dengan tatapan matanya yang tajam membuat kerabatnya itu bergeming dan bersilat kalau itu hanya candaan. Scene itu relevan dengan masalah sekarang ini. Sering terjadi pada mahasiswa/pemuda hari ini terkadang mereka banyak membaca namun diam akan kondisi negara dan mengumpat tak memberi solusi ideal sama sekali terkadang pula mereka sedikit membaca namun menyatakan aksinya hingga turun ke jalan akan kondisi negara yang bobrok. Tak jarang dari mereka suka terbawa arus pusaran politik karena kurang prinsip dasar dari bacaan buku.
Momen ketiga ini saya tunjukkan kepada sutradara dan penulis yaitu Yosep Anggi Noen, director of photograhpy (DOP) yaitu Bayu Prihantoro Filemon dan produser yaitu Yulia Evina Bhara yang memberi warna lain di dunia film. Saya tidak terlalu suka film biografi Indonesia karena terkesan harus menggunakan aktor terkenal, minimal menggunakan CGI agar lebih terasa zaman dahulunya, dan soundtrack yang mewah agar membawa penonton merasa berada di suasana tersebut. Mereka semua membuktikan bahwa tidak perlu menggunakan aktor terkenal hanya perlu seniman yang serius menjalani hasratnya dalam seni peran (Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi, Arswendi Nasution), aktris yang juga pernah menjadi jurnalis (Marissa Anita) dan penyanyi yang juga tergerak sebagai aktivis (Melanie Subono) dll, soundtrack film yang hanya berisi suara alam keadaan set tersebut demi menghasilkan suatu karya yang bernilai tinggi.
Momen keempat masih berkaitan dengan momen ketiga namun dari segi teknis film. Dialog di film tidaklah bertele-tele melainkan terkesan tajam kepada realitas disana sangat genting dan hawa ketakutan yang sangat terasa. Narasi beritanya, puisi monolognya , penggunaan dialek daerah dan sedikit bahasa jawa dipakai sebagai pemanis bahwa film ini juga bernilai budaya. Segi sinematografinya yang sering menggunakan long shot angle yang membuat kita memberi tafsiran pekatnya emosi penindasan dan gambaran realitas dari bobroknya rezim yang terjadi dalam film itu. Kemudian sorotan medium shot angle, walaupun menampilkan dekat lekuk tubuh pemain tetapi kamera tersebut tidak bergerak mengikuti pemain hanya diam tak jarang pemain seperti keluar frame kamera namun saya melihat sebagai nilai tambah dari esensi film ini. dan terakhir Close up angle, permainan mimik wajah Wiji Thukul di sini dimainkan apik, emosi pada wajah pemain terasa, tak hanya wiji, pemain lain juga menampilkan karakter yang diperankannya sebagai seorang yang hidup di realitas penonton.
Itulah ulasan film Istirahatlah Kata-Kata. Gunakan waktumu sebentar untuk menonton film informatif dan berbau sejarah (salah satunya ini) supaya menambah khazanah kita. Selamat menyaksikan.
Ulasannya Tamat, wajib ditonton. Sekian #UlasFilmKemdikbud
CC: @Kemdikbud.ri @Budayasaya @PusbangFilm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar